MTs Almaarif 01 Singosari

MTs Almaarif 01 Singosari Dalami Praktik Baik Sekolah Ramah Anak di SMPN 1 Surabaya

Surabaya, 24 September 2026 — Upaya memperkuat implementasi Madrasah Ramah Anak (MRA) terus dilakukan MTs Almaarif 01 Singosari melalui kegiatan Forum Group Discussion (FGD) praktik baik implementasi Sekolah/Madrasah Ramah Anak (SRA/MRA) bersama SMPN 1 Surabaya, Kamis (24/9/2026).

NEXT

Kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman, gagasan, dan strategi dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, serta menghormati hak dan martabat anak. MTs Almaarif 01 Singosari hadir tidak hanya untuk belajar dari praktik baik SMPN 1 Surabaya, tetapi juga berbagi pengalaman dalam mengembangkan budaya ramah anak di lingkungan madrasah.

Disambut Komunitas Siswa dan Berbagai Karya Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan rombongan MTs Almaarif 01 Singosari oleh keluarga besar SMPN 1 Surabaya. Penyambutan berlangsung hangat dan menyenangkan. Para tamu diajak melihat berbagai aktivitas komunitas siswa sekaligus karya-karya yang dihasilkan oleh peserta didik.

Penyambutan tersebut memberikan gambaran awal bahwa konsep sekolah ramah anak tidak berhenti pada pemenuhan administrasi, tetapi tercermin dalam suasana sekolah yang memberikan ruang kepada siswa untuk berekspresi, berkarya, berorganisasi, dan mengembangkan potensinya Setelah kegiatan penyambutan, rombongan dipersilakanmengikuti FGD yang berlangsung di aula SMPN 1 Surabaya

Acara diawali dengan sambutan dari sejumlah perwakilan, antara lain Kabid Dikdasmen Kota Surabaya dan perwakilan komite sekolah.  Memahami SRA dari Praktik Nyata Memasuki acara inti, FGD dipimpin oleh Kepala SMPN 1 Surabaya, Eko Widyawati. Kegiatan diawali dengan pemutaran profil Sekolah Ramah Anak SMPN 1 Surabaya.

Melalui profil tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai implementasi komponen persyaratan SRA, mulai dari manajemen layanan, tenaga layanan, fasilitas layanan, hingga penyelenggaraan layanan.

Paparan tersebut menunjukkan bahwa penerapan SRA membutuhkan keterlibatan berbagai unsur sekolah. Sekolah tidak hanya menyediakan fasilitas yang mendukung kebutuhan anak, tetapi juga membangun sistem layanan dan budaya sekolah yang memberikan rasa aman, nyaman, dihargai, serta didengarkan kepada setiap peserta didik. 

Selanjutnya, Kepala SMPN 1 Surabaya Eko Widayani, S.Pd.M.Pd. memaparkan pengalaman SMPN 1 Surabaya dalam mengimplementasikan Sekolah Ramah Anak. Berbagai praktik yang telah dilakukan menjadi bahan pembelajaran bersama bagi peserta FGD.

Salah satu prinsip yang ditekankan adalah bagaimana membuat siswa merasa bahwa sekolah merupakan tempat yang nyaman bagi mereka. “Siswa masuk sekolah seperti di rumah sendiri,” menjadi salah satu gambaran penting dalam membangun suasana sekolah yang ramah, aman, dan menyenangkan.

 MTs Almaarif 01 Singosari Berbagi Praktik Implementasi MRA Forum kemudian memberikan kesempatan kepada sejumlah kepala sekolah dan kepala madrasah yang hadir untuk berbagi pengalaman, termasuk Kepala MTs Almaarif 01 Singosari Dwi Retno Palupi, M.Pd.

Dalam kesempatan tersebut beliau memperkenalkan profil MTs Almaarif 01 Singosari sekaligus berbagai upaya yang dilakukan madrasah dalam mengimplementasikan Madrasah Ramah Anak.

Paparan tersebut menjadi bagian penting dari FGD karena implementasi MRA di lingkungan madrasah memiliki karakteristik tersendiri, terutama dalam mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan Islam, budaya madrasah, penguatan karakter, serta pemenuhan hak dan perlindungan anak.

Pertukaran pengalaman antara SMPN 1 Surabaya dan MTs Almaarif 01 Singosari memperlihatkan bahwa prinsip ramah anak dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik masing-masing satuan pendidikan, tanpa meninggalkan prinsip utama berupa perlindungan, penghormatan, partisipasi, dan kepentingan terbaik bagi anak

Membahas Persoalan Nyata yang Dihadapi Sekolah Diskusi semakin menarik ketika memasuki sesi tanya jawab. Para peserta mengangkat berbagai persoalan yang sering dihadapi satuan pendidikan dalam mendampingi peserta didik. Beberapa isu yang dibahas antara lain penanganan siswa yang terlambat, siswa yang tidak masuk sekolah, penggunaan gawai, hingga strategi melibatkan alumni dalam mendukung implementasi SRA/MRA.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa sekolah ramah anak bukan berarti membiarkan setiap perilaku siswa tanpa batas. Sebaliknya, disiplin tetap diperlukan, tetapi penerapannya dilakukan dengan pendekatan yang mendidik, menghormati anak, dan tidak merendahkan martabatnya. Dengan demikian, disiplin positif menjadi bagian penting dalam membangun budaya sekolah yang ramah anak. Anak tetap diarahkan untuk memahami konsekuensi dari perilakunya sekaligus memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri.

Komite Sekolah: Orang Tua Harus Menjadi Bagian dari Gerakan Ramah Anak Peran orang tua juga menjadi salah satu pembahasan penting dalam FGD. Perwakilan komite SMPN 1 Surabaya menjelaskan bahwa implementasi SRA membutuhkan kerja sama yang erat antara sekolah dan orang tua.

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan workshop yang melibatkan orang tua, siswa, dan guru. Materi yang dibahas disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak, seperti bijak bermedia sosial, menghadapi masa pubertas, dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan anak dan remaja.

Praktik tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan ramah anak tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah. Lingkungan keluarga dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Tiga Pilar Pendidikan dan Pentingnya Menjaga Ucapan Dalam penyampaiannya, Eko Widayani, S.Pd. M.Pd. juga menekankan pentingnya sinergi tiga pilar pendidikan dalam mewujudkan sekolah ramah anak. Sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat perlu memiliki komitmen bersama dalam mendampingi anak.

Pesan yang tidak kalah penting adalah bagaimana setiap orang dewasa di lingkungan pendidikan menjaga ucapan ketika berinteraksi dengan anak.

“Ucapan adalah doa,” menjadi pesan reflektif dalam forum tersebut. Setiap kata yang disampaikan kepada anak dapat memberikan pengaruh terhadap perasaan, kepercayaan diri, dan pembentukan karakter mereka.

Karena itu, membangun sekolah ramah anak juga berarti membangun budaya komunikasi yang positif. Teguran tetap dapat diberikan, aturan tetap harus ditegakkan, tetapi semuanya dilakukan melalui bahasa yang mendidik dan tetap menghormati anak sebagai pribadi yang sedang bertumbuh.

SRA/MRA: Mengayomi, Mendisiplinkan, dan Menghormati Anak FGD praktik baik antara MTs Almaarif 01 Singosari dan SMPN 1 Surabaya memberikan satu pemahaman penting bahwa SRA/MRA bukan sekadar program atau pemenuhan dokumen administratif. Lebih dari itu, SRA/MRA merupakan sebuah gerakan budaya pendidikan yang menempatkan anak sebagai subjek yang harus dilindungi, didengar, didampingi, dan dihargai.

Mendisiplinkan anak bukan berarti memberikan hukuman yang merendahkan. Mengarahkan anak bukan berarti menghilangkan hak mereka untuk berpendapat. Dan mendidik bukan berarti mengabaikan perasaan serta martabat anak. Semangat tersebut menjadi benang merah kegiatan FGD: bagaimana sekolah dan madrasah dapat mengayomi sekaligus mendisiplinkan anak dengan tetap menghormati hak dan martabatnya.

Bagi MTs Almaarif 01 Singosari, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk memperkuat implementasi Madrasah Ramah Anak. Belajar dari praktik baik satuan pendidikan lain sekaligus berbagi pengalaman menjadi langkah penting dalam membangun budaya madrasah yang aman, nyaman, menyenangkan, dan mendukung tumbuh kembang setiap peserta didik.

Melalui kolaborasi dan refleksi bersama, semangat ramah anak diharapkan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir dalam cara sekolah melayani, guru mendampingi, orang tua berkomunikasi, dan seluruh warga madrasah memperlakukan anak setiap hari.

mtsalmaarif01singosari

mtsalmaarif01singosari

mtsalmaarif01singosari